Dibalik Kunjungan Siswi KIR ke SLBB Don Bosco Wonosobo

“Anaknya Asik-Asik dan Menyenangkan !”

Oleh : Gottfried Bertiyan

Mungkin banyak yang belum tahu, kalau kemarin tanggal 24 Mei 2008, anak-anak KIR beserta Pak Petrus sebagai pendampingnya dan ditambah dengan 1 orang dari Majalah Gema Pius, berkunjung ke SLBB Don Bosco Wonosobo. SLBB Don Bosco adalah salah satu sekolah khusus anak yang kurang bisa bahkan mungkin tidak bisa mendegar, dengan kata lain tuna rungu. Nah, karena mereka sejak kecil mereka tidak pernah mendegar suara, maka mereka kurang dapat berbicara dengan lancar. Rasa capek dan letih dalam perjalanan yang menempuh kurang lebih 4 jam itu, hilang disana. Ternyata, sekolahnya besar sekali dan ditambah hawa yang sejuk pula. Ketika kami sampai disana, kami disambut dengan ramah oleh Bruder Marcell sebagai “Yang Dituakan” disana. Ternyata beliau ternyata adik dari Ibu Saptadi, guru kita tercinta.

Sebelumnya, kami diajak terlebih dahulu berkeliling mengitari komplek. Wow, ternyata gedungnya benar-benar dari yang kami kira. Ternyata, sekolahnya memiliki 2 lapangan yang cukup luas sekali ( cukup biking ngos-ngosan kalau buat keliling lapangan he..he..he.. ). Memiliki 2 aula yang cukup besar, dan cukup nyaman, asrama yang rapi dan bersih. Setelah puas beramah-tamah, kamipun menyerbu Bruder Marcell dengan banyak pertanyaan. SLBB Don Bosco adalah salah satu sekolah yang keukeuh untuk menerapkan “sistem oral” untuk pembelajaran bahasa bagi para siswanya. Sistem oral ini “mewajibkan” siswa untuk bicara. Bicara yang dapat dimengerti oleh lawan bicaranya. Bukan hanya sekedar mengeluarkan suara. Dan juga mampu membaca gerak bibir lawan bicaranya. Karena menurut pandangan system ini, anak tunarungu nanti akan hidup ditengah-tengah masyarakat yang berbicara dan berbahasa. Jadi mereka pun harus menyesuaikan diri. Kenapa tidak memakai bahasa isyarat? Karena tidak semua anggota masyarakat memahami bahasa isyarat, bahkan

orang-orang di dalam lingkungan pendidikan tunarungu pun belum tentu menguasai. Jadi lebih baik, yang “sedikit” menyesuaikan diri terhadap yang “banyak”. Kita memperbincangkan banyak hal. Dari mulai sekolah, keluarga dan kegiatan sehari-hari. Perlu diketahui, klo anak-anak yang sekolah disini sudah tinggal di asrama sejak mereka berusia 5 tahun! Mereka ketemu keluarganya klo pas liburan atau ada kunjungan aja. Klo yang sampai melanjutkan SMP nya di sekolah ini, berarti mereka tinggal di asrama kurang lebih 12 tahun. Karena klo yang tunarungu itu ada kelas persiapan selama 3 tahun sebelum masuk SD. Ada juga beberapa yang setelah lulus SD melanjutkan di sekolah biasa. Setelah kelas lanjutan (SMP) ada juga kelas keterampilan / kejuruan. Disini mereka diajarkan beberapa keterampilan sesuai dengan minat masing-masing. Ada keterampilan menjahit, kayu, besi dan klo gak salah masih ada keterampilan yang lainnya. Biar setelah keluar dari sekolah ini, mereka memiliki keahlian. Sekolah yang 90 % siswanya beragama Islam ini ternyata bisa menciptakan orang-orang yang bermutu lho, contohnya desainer dan bahkan mereka yang sudah lulus banyak yang bisa melanjutkan ke Universitas. Dan yang hebatnya lagi, mereka kemarin dalam UAN menempati peringkat 10 besar dalam Kabupaten Wonosobo lho !.Dan soal biaya bagi yang mereka yang kurang mampu, dapat menyesuaikan kok. Namun, ada juga mereka yang dari titipan Panti Asuhan dan guru-guru yang mengajar merekapun lulusan khusus. Ogh iya, satu yang terlupakan kalau mereka itu jago-jago pula dalam bidang olahraga kayak badminton , bakset , tennis meja , dan lain-lain.

Jika soal libur panjang, mereka dapat pulang pulang dua kali dalam setahun. Sedangkan libur pendek, orangtua diperbolehkan ke asrama dan tinggal bersama mereka. Namun, satu lagi yang perlu kita tahu, jika mereka mendengar suara dengan nada tinggi, malah kuping mereka terasa sakit ( lho, kok bisa ? ). Ya, tapi itulah SLBB Don Bosco.

Setelah kami beramah tamah dan bertanya-jawab, kami akhirnya masuk ke Wisma dan makan malam.. Setelah itu, kami mulai berkenalan dengan anak-anak disana, khususnya anak-anak yang udah agak gede. Kami kira anak-anaknya itu galak-galak. Ternyata dugaan kami salah besar. Anaknya itu sangat ramah dan sopan, serta mudah diajak bergaul. Kamipun mengisi malam hari dengan tawa canda , foto bersama , sampai tuker-tukeran nomer handphone , e-mail , dan friendster. Walaupun awalnya kurang memahami apa mereka bicarakan. Setelah waktu larut malam, kamipun kembali ke wisma untuk tidur.

Pagi harinya, sekitar pukul setengah lima, kami bangun untuk memandikan anak-anak kelas persiapan. Walaupun udara dingin sekali dan rasa ngantuk masih ada, tapi kami tetap senang memandikan mereka. Wah, mereka saja bangun sepagi itu dan langsung mandi. Sedangkan kita, bangun aja sering telat ! Ya nggak ?

Setelah memandikan mereka yang masih kecil & imut-imut, kami pun membantu menggunakan pakaian. Sehabis itu, kami membantu ibu penjaga membagikan makanan dan menyuapkan mereka. Wah, rasanya seperti orang tua saja ! Ya walaupun mereka makannya masih belepotan, bahkan tumpah, namun tetap menyenangkan.

Kemudian, kami mandi, makan, dan berganti pakaian seragam untuk ikut belajar bersama mereka. Lalu, kamipun mulai masuk kelas masing-masing dengan 2 anak per kelasnya.

Setelah kita ikut dan merasakan gimana menjadi murid seperti mereka memang benar-benar susah untuk berbicara 1 kata. Apalagi jika kita membayangkan jika harus menjadi guru dan mengajar mereka. Wahhh,, harus extra sabar ternyata yah...

Setelah itu, jam istirahat berbunyi. Kamipun bermain dengan anak-anak kelas persiapan dan kelas dasa. Kami bercengkrama dan bersendagurau bersama-sama.

Selanjutnya, kami diajak ke Ruang Artikulasi. Ruang Artikulasi adalah ruang dimana para siswa akan diajak belajar berbicara lancar dan jelas. Kebetulan, kami pada hari itu dapat melihat kegiatan berbicara di ruang artikulasi. Disana, siswa diberi berbagai permainan yang menarik dan atraktif, sehingga mereka tertarik untuk berbicara, walaupun belum 100 %.

Disana, mereka diajarkan bicara pula dengan cara memegang tangan pada dada. Karena, pada dada itulah terdapat getaran suara yang dapat dipahami oleh anak.

Sehabis kami mengunjungi ruang artikulasi, kami diajak oleh Pak Ratno selaku Kepala Sekolah di SLBB Don Bosco Wonosobo. Kamipun kembali diajak berkeliling ke Kelas Kejuruan. Ternyata, hasil karya anak-anak kejuruan itu nggak kalah saing sama yang dibuat ama orang-orang normal lho ! Ada tempat tidur dan tempat pot dari anak-anak teknik besi , meja dan kursi dari anak teknik besi , dan sebagainya. Dan satu lagi, ternyata mereka juga membuat kapur untuk papan tulis terbuat dari bahan gypsum.

Setelah puas berkeliling, kamipun kembali menyerbu Pak Ratno dengan berbagai pertanyaan. Setelah puas dengan berbagai jawaban dari Pak Ratno, kamipun kembali ke Wisma untuk makan siang. Kebetulan, makan siang kami adalah Mie Ongklong, yang merupakan makanan khan Wonosobo.

Sehabis makanpun, kami mencuci piring dan berganti pakaian. Kamipun kemudian pamit sekaligus menemani anak-anak kelas persiapan untuk bermain yang terakhir kalinya. Rasa sedih dan berat untuk meninggalkan merekapun sangat terasa. Setelah dari situ, kamipun berpamitan kepada anak-anak kelas dasar, sebelumnya kami foto bersama sebagai kenang-kenangan. Kemudian, kamipun berpamitan juga kepada anak-anak kelas kejuruan. Lagi-lagi kami foto bersama. Setelah kami berpamitan semua, kamipun dilepas oleh semua anak-anak SLBB Don Bosco Wonosobo. Rasa kangen untuk datang kesini lagipun masih ada sampai saat ini, karena kenangan seperti ini sangat jarang dan tak akan terlupakan.


1 Response
  1. Anonim Says:

    Manis Dude,

    Salam,
    http://caritasindonesia.blogspot.com/