|

Telapak kaki ini terasa terbakar saat semua mata berpaling kepadaku. Keringat ini bercucuran saat kepulan asap kendaraan menghitamkan mukaku. Dan aku tetap mengadahkan telapak tanganku demi sekeping uang...
Ah, siang ini beda dari biasanya. Sinar surya tak lagi membakar kulitku. Sepertinya mentari enggan menampakkan keagungannya kepadaku. Bersembunyi di balik pekatnya awan hitam, hanya sesekali memberi terang. Sedang aku masih bergelut di tengah keramaian kendaraan yang antre di perempatan jalan.
Lampu merah yang menyalah menghentikan laju kendaraan mereka. Hatiku senang, melihat antrean kendaraan itu. Betapa tidak, lampu merah seakan bendungan rejeki yang mengalir di jalanan. Akupun bisa memelas belas kasihan para pengendara mobil mewah, meski aku tau kadang menutupi hati nurani pemiliknya.
Aku berlari menyelinap diantara kendaraan-kendaraan itu. Mempertaruhkan nyawaku pada pengendara yang dikejar waktu. Tapi aku tak peduli, lambatnya laju mobil mewah yang terdengar senyap telah melangkahkan kakiku menuju arahnya. Aku tahu, mobil mewah membawa sebagian rezeki yang dititipkan Tuhan kepadaku.
“Tiitt...tittt !!”, mobil mewah itu membunyikan klaksonnya yang sombong. Kilatan cat mobil mewah itu menyilaukan mataku di gelapnya siang. Memamerkan gemerlap dunia yang semu. Dan aku pun tergoda. Berhasrat dalam keputusasaan yang tiada berhenti. Mengikis habis pikiranku tentang perbedaan garis nasib antara aku dan mobil mewah.
Aku kecil, berserakan di jalanan. Tak seperti mobil mewah yang keluar dari gedung bertingkat dengan salam hormat karyawan dan pak satpam. Di benakku, senyum lebar mobil mewah ketika mengangkat ponsel membuatku iri. Rintihan dan sikap memelasku menjadi tidak berarti, uluran tanganku diabaikannya. Sesekali mobil mewah itu melirik dengan pandangan sinis..Lantas melaju tanpa meninggalkan secercah cahaya kemanusiaan.
Siapa pemilik mobil mewah itu ? Aku tidak tahu. Mungkin orang-orang yang sukses dalam karirnya. Mungkin juga orang-orang yang korupsi di kantornya. Aku tidak peduli. Bagiku, sekeping uang adalah kesuksesanku untuk bertahan hidup.
Suara klakson mobil mewah itu kembali berbunyi.”Tiittt...Tiiitttt !!!” Aku terbangun dari tidurku dibawah rambu lalu lintas. Ah..saatnya memelas sekeping uang receh dari Si Mobil Mewah. Kali ini, aku bertemu dengan mobil mewah berwarna abu silver. Sejenak aku terbius segarnya aroma parfum jeruk lemon dari dalam mobil mewah.
Perlahan, aku ketuk kaca pintu depan mobil mewah itu. Aku ulang hingga tiga kali ketukan. Aku lihat ada orang di bagian belakang mobil. Tak lama kemudian, akhirnya terbuka juga. Nampak seorang berkemeja, berdasi, dan berjas rapi duduk di mobil itu. Ia bermuka masam dan berkata “Jangan kau sentuh mobil ini!”, aku terdiam dan kembali memelas untuk mendapatkan uang receh.
Sudah kesekian kali mobil mewah itu menolak menyelamatkan hidupku. Sementara lampu merah masih tetap menyala, dan rintik hujan mulai turun. Sesaat sekujur tubuhku sudah basah kuyub. Aku tidak akan menyerah dengan mobil mewah ini. Perutku sudah lapar, kakiku lemas untuk bertahan di jalanan. Tanpa sadar, tetesan air mata keluar dari kelopak mataku. Jatuh bersama air hujan yang membasahi wajahku....
“Sreeett...”, tiba-tiba pintu kaca mobil mewah bagian depan terbuka. Sopir mobil mewah itu menjulurkan tangannya keluar. Memberiku selembar uang berwarna merah. Sementara orang berpaiakan bos yang duduk di belakang berseru,”Lekas jalan, jam 2 siang ada rapat direksi”
By : Intan Purnamasari H.
from : Patriot 135 Magazine - Januari 2008
